Kamis, 12 Desember 2013

Penentuan Bilangna Karbohidrat

Diposting oleh Unknown di 21.45 0 komentar


LAPORAN LENGKAP



 

Nama                                       : ANDI ANUGRAH INDAH PRATIWI
Kelas/NIS                               : III c / 114628
Kelompok                               : c.1.1
Tanggal Mulai                         : 30 September 2013
Tanggal Selesai                         30 September 2013
Judul penetapan                      : Penentuan bilangan karbohidrat
Tujuan Penetapan                    : Untuk mengetahui kadar karbohidrat suatu sampel (mi instan)
Dasar Prinsip               : Prinsip kerja kedua cara ini adalah hidrolisis pasti oleh asam menjadi gula pereduksi. Pada penetapan cara luff dipakai pereduksi garam Cu kompleks, dimana glukosa yang bersifat pereduksi akan mereduksi Cu2+  menjadi Cu+ atau CuO direduksi menjadi Cu2O yang bewarna merah bata. Kemudian kelebihan CuO ditetapkan dengan cara iodometri. Dengan menetapkan blanko, maka volume (ml) tio yang dibutuhkan untuk menitar kelebihan Cu2+ dapat diketahui selisih volume tio blanko- sampel setara dengan jumlah mg glukosa yang terdapat dalam sampel.
Reaksi                                   : 
(C6H10O5)n + nH2O                                 nC6H12O6

C6H12O6 + 2CuO                                    Cu2O + C5H11O5 + COOH

Sisa CuO + 2KI + H2SO4                           CuI2 + K2SO4 + H2O

CuI2                          Cu2I2 + I2

I2 + Na2S2O3                                           2NaI + Na2S4O6

Landasan Teori                 : 

K A R B O H I D R A T

Karbohidrat adalah golongan senyawa organic yang terdiri atas unsure karbon,hydrogen dan oksigen. Pada umumnya karbohidrat memenuhi rumus empiric Cn(H2O)m dan itulah sebabnya golongan senyawa ini disebut karbohidrat yang berarti hidrat (karbon)/(hidrat arang). Karbohidrat adalah suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa-senyawa yang dapat terhidrolisis menghasilkan senyawa seperti itu. Satu contoh Polihidroksi Aldehid ialah Glukosa, dan contoh Keton ialah Fruktosa.

KLASIFIKASI KARBOHIDRAT
Berdasarkan reaksi hidrolisisnya, karbohidrat dibedakan atas :
1. Monosakarida
Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana, tidak dapat lagi di hidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.
2. Oligosakarida
Oligosakarida ialah karbohidrat yang pada hidrolisis menghasilkan beberapa (2-10) molekul monosakarida. Yang terpenting dari golongan ini adalah disakarida yang dapat menghasilkan 2 molekul monosakarida.
3. Polisakarida
Polisakarida ialah karbohidrat yang dapat di hidrolisis membentuk banyak (>10) molekul monosakarida.

Monosakarida
Berdasarkan jenis gugus fungsinya, monosakarida dibedakan atas Aldosa dan Ketosa. Aldosa ialah monosakarida yang mengandung gugus aldehid, sedangkan Ketosa ialah monosakarida yang mengandung gugus keton. Glukisa,galaktosa,manosa dan ribose tergolong Aldosa, sedangkan fruktosa tergolong Ketosa.
Reaksi-reaksi Monosakarida :
Reaksi Oksidasi
Reaksi Mutarotasi
Reaksi Reduksi
Reaksi Pembentukan Ester.

Disakarida
Disakarida terbentuk dari kondensasi dua molekul monosakarida, masing-masing menggunakan gugus OHuntuk membentuk jembatan oksigen dan membebaskan satu molekul air. Karena dalam molekul monosakarida terdapat banyak gugus OH maka pembentukan dapat terjadi menurut berbagai cara. Disakarida terpenting ialah Sukrosa(gula Tebu), maltosa(gula Malt) dan laktosa(gula Susu).
Polisakarida
Suatu sakarida yang setiap molekulnya terdiri dari ratusan bahkan ribuan monosakarida, merupakan hasil fotosintesa pada tanaman.
6CO2 + 5n.H2O (C6H10O5)n.
Dari system ikatan monosakaridanya mengakibatkan adanya polisakarida yang dapat dicerna oleh lambung, yaitu pati atau karbohidrat, dan polisakarida yang tidak dapat dicerna oleh lambung yaitu selulosa atau serat kasar.
Karbohidrat ada yang bersifat pereduksi dan ada yang bersifat non pereduksi. Kedua sofat ini di karenakan adanya gugusan aldehid(pereduksi) dan gugusan Keton(non pereduksi). Ada 2 macam penetapan karbohidrat, yaitu :
Cara Titrasi (cara Luff)
Cara Spektrofotometri

Penentuan Karbohidrat dengan Metode Luff Schoorl
Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut :
 R-CHO + 2 Cu2+  à R-COOH + Cu2O
2 Cu2+ + 4 I- à Cu2I2 + I2
2 S2O32- + I2 à S4O62- + 2 I-

Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno 2007). I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen.

Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu dengan penentuan Cu tereduksi dengan I2 dan menggunakan prosedur Lae-Eynon (Anonim 2009).
Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.
Peran biologis Karbohidrat

Peran dalam biosfer
Fotosintesis  menyediakan makanan bagi hampir seluruh kehidupan di bumi, baik secara langsung atau tidak langsung. Organisme autotrof  seperti tumbuhan hijau, bakteri , dan alga  fotosintetik memanfaatkan hasil fotosintesis secara langsung. Sementara itu, hampir semua organisme heterotrof , termasuk manusia , benar-benar bergantung pada organisme autotrof untuk mendapatkan makanan.
Pada proses fotosintesis , karbon dioksida diubah menjadi karbohidrat yang kemudian dapat digunakan untuk mensintesis materi organik lainnya. Karbohidrat yang dihasilkan oleh fotosintesis ialah gula berkarbon tiga yang dinamai gliseraldehida 3-fosfat .menurut rozison (2009) Senyawa ini merupakan bahan dasar senyawa-senyawa lain yang digunakan langsung oleh organisme autotrof, misalnya glukosa, selulosa, dan amilum.

Peran sebagai bahan bakar dan nutrisi
Kentang  merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung banyak karbohidrat.
Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh makhluk hidup. Monosakarida, khususnya glukosa , merupakan nutrien  utama sel . Misalnya, pada vertebrata , glukosa mengalir dalam aliran darah  sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel tubuh tersebut menyerap glukosa dan mengambil tenaga  yang tersimpan di dalam molekul tersebut pada proses respirasi seluler  untuk menjalankan sel-sel tubuh. Selain itu, kerangka karbon monosakarida juga berfungsi sebagai bahan baku untuk sintesis jenis molekul organik kecil lainnya, termasuk asam amino  dan asam lemak .
Sebagai nutrisi  untuk manusia , 1 gram  karbohidrat memiliki nilai energi 4 Kalori . Dalam menu makanan orang Asia Tenggara  termasuk Indonesia , umumnya kandungan karbohidrat cukup tinggi, yaitu antara 70–80%. Bahan makanan sumber karbohidrat ini misalnya padi-padian atau serealia  (gandum  dan beras ), umbi-umbian  (kentang , singkong , ubi jalar ), dan gula .
Namun demikian, daya cerna tubuh manusia terhadap karbohidrat bermacam-macam bergantung pada sumbernya, yaitu bervariasi antara 90%–98%. Serat  menurunkan daya cerna karbohidrat menjadi 85%.]  Manusia tidak dapat mencerna selulosa sehingga serat selulosa yang dikonsumsi manusia hanya lewat melalui saluran pencernaan  dan keluar bersama feses . Serat-serat selulosa mengikis dinding saluran pencernaan dan merangsangnya mengeluarkan lendir yang membantu makanan melewati saluran pencernaan dengan lancar sehingga selulosa disebut sebagai bagian penting dalam menu makanan yang sehat. Contoh makanan yang sangat kaya akan serat selulosa ialah buah-buahan  segar, sayur-sayuran , dan biji-bijian . Selain sebagai sumber energi, karbohidrat juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh, berperan penting dalam proses metabolisme dalam tubuh, dan pembentuk struktur sel dengan mengikat protein dan lemak.
Peran sebagai cadangan energi
Beberapa jenis polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau cadangan, yang nantinya akan dihidrolisis  untuk menyediakan gula bagi sel ketika diperlukan. Pati  merupakan suatu polisakarida simpanan pada tumbuhan. Tumbuhan menumpuk pati sebagai granul atau butiran di dalam organel  plastid , termasuk kloroplas . Dengan mensintesis pati, tumbuhan dapat menimbun kelebihan glukosa . Glukosa merupakan bahan bakar sel yang utama, sehingga pati merupakan energi cadangan.
Sementara itu, hewan menyimpan polisakarida yang disebut glikogen . Manusia dan vertebrata lainnya menyimpan glikogen terutama dalam sel hati  dan otot . Penguraian glikogen pada sel-sel ini akan melepaskan glukosa ketika kebutuhan gula meningkat. Namun demikian, glikogen tidak dapat diandalkan sebagai sumber energi hewan untuk jangka waktu lama. Glikogen simpanan akan terkuras habis hanya dalam waktu sehari kecuali kalau dipulihkan kembali dengan mengonsumsi makanan.
 Peran sebagai materi pembangun
Organisme membangun materi-materi kuat dari polisakarida struktural. Misalnya, selulosa  ialah komponen utama dinding sel  tumbuhan. Selulosa bersifat seperti serabut, liat, tidak larut di dalam air, dan ditemukan terutama pada tangkai, batang, dahan, dan semua bagian berkayu dari jaringan tumbuhan.[10]  Kayu  terutama terbuat dari selulosa dan polisakarida lain, misalnya hemiselulosa  dan pektin . Sementara itu, kapas  terbuat hampir seluruhnya dari selulosa.
Polisakarida struktural penting lainnya ialah kitin , karbohidrat yang menyusun kerangka luar (eksoskeleton) arthropoda  (serangga , laba-laba , crustacea , dan hewan-hewan lain sejenis). Kitin murni mirip seperti kulit, tetapi akan mengeras ketika dilapisi kalsium karbonat . Kitin juga ditemukan pada dinding sel berbagai jenis fungi .] 
Sementara itu, dinding sel bakteri  terbuat dari struktur gabungan karbohidrat polisakarida dengan peptida , disebut peptidoglikan . Dinding sel ini membentuk suatu kulit kaku dan berpori membungkus sel yang memberi perlindungan fisik bagi membran sel  yang lunak dan sitoplasma  di dalam sel.
Karbohidrat struktural lainnya yang juga merupakan molekul gabungan karbohidrat dengan molekul lain ialah proteoglikan , glikoprotein , dan glikolipid . Proteoglikan maupun glikoprotein terdiri atas karbohidrat dan protein , namun proteoglikan terdiri terutama atas karbohidrat, sedangkan glikoprotein terdiri terutama atas protein. Proteoglikan ditemukan misalnya pada perekat antarsel pada jaringan, tulang rawan , dan cairan sinovial  yang melicinkan sendi  otot. Sementara itu, glikoprotein dan glikolipid (gabungan karbohidrat dan lipid ) banyak ditemukan pada permukaan sel hewan. Karbohidrat pada glikoprotein umumnya berupa oligosakarida dan dapat berfungsi sebagai penanda sel. Misalnya, empat golongan darah  manusia pada sistem ABO (A, B, AB, dan O) mencerminkan keragaman oligosakarida pada permukaan sel darah merah.
- See more at: http://namikazewand.blogspot.com/2013/06/penetapan-kadar-karbohidrat-metode-luff.html#sthash.X6AbTL47.dpuf

Alat                                 : - Neraca Digital
                                         - Erlenmeyer asah 250 ml
                                         - Sendok zat
                                         - Labu semprot
                                         - Pipet volum 25 ml
                                         - Gelas piala
                                         - Gelas ukur
                                         - Buret
                                         - Pipet tetes
Bahan                              : - Contoh ( mi instan )
                                         - HCl 3 %
                                         - NaOH 3,25 %
                                         - Aquadest
                                         - Larutan tio 0,1 N
                                         - Indikator PP
-  Luff
-  KI 30%
-  H2SO25 %
-  Indicator amilum

Cara Kerja                           : 
Sampel                                 :
1.                Ditimbang  3 gram contoh ke dalam erlenmeyer
2.                 Ditambahkan 25 ml HCl 3%
3.                Dididihkan 1,5 jam pada pendingin tegak
4.                 Dimasukkan dalam labu ukur 200 ml
5.                 Dinetralkan dengan NaOH 3,25% (indicator PP)
6.                 Diimpitkan hingga 250 ml
7.                 Disaring
Filtrate                                  :
1.     Dipipet 10 mldalam Erlenmeyer asah
2.     Ditambahkan 25 ml luff dan 15 ml H2O
3.     Dididihkan 10 menit dengan pendingin tegak
4.     Didinginkan
5.     Ditambahkan KI 30% 10 ml dan 25 ml H2SO4 25%
6.     Dititrasi dengan tio 0,1 N terstandarisasi dengan indicator kanji
7.     Dibandingkan terhadap blanko.
Pengamatan                       :
                     Volume titrasi sampel                            : 6,40 ml
                     Volume titrasi blanko                             : 44,90 ml
                     Bobot sampel                                             : 3,0024 g = 3002,4 mg
Perhitungan                       :
1.     AT      = (B-Spl) ml x Ntio standar
Ntio standar
                        = (44,90 – 6,4) ml x 0,1000
                                    0,1000
                        = 38,5 ml
                        = 3,85 x 10 ml
           
            3,85   = 7,2 + (0,85 x 2,5)
                        = 7,2 + (2,125)
                        = 9,325 x 10 mg
                        = 93,25 mg
2.     % karbohidrat       = FP x mg glukosa
X100 %
Mg sampel
                                                = 25 x 93,25 mg
                                                                                    X100 %
                                                            3002,4 mg
                                                = 77,64 %
Kesimpulan                                    :
                   Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa kadar karbohidrat yang didapatkan dalam sampel (mi instan) ialah 77,64 %




Daftar Pustaka                 :



Minggu, 17 November 2013

PENENTUAN BILANGAN ASAM PADA MINYAK/LEMAK

Diposting oleh Unknown di 04.43 0 komentar

Penentuan bilangan asam dipergunakan untuk mengukur jumlah asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak atau lemak. Besarnya bilangan asam tergantung dari kemurnian dan umur dari minyak atau lemak tersebut.

Analisa minyak dan lemak yang umumnya banyak dilakukan dalam bahan makanan adalah penentuan sifat fisik maupun kimiawi yang khas mencirikan sifat minyak tertentu sehingga dapat dianalisa dengan bilangan asam pada suatu sampel.

Bilangan asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas, serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH yang digunakan untuk menetralkan asam lmak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak.

Bilangan asam yang besar menunjukkan asam lemak bebas yang besar pula, yang berasal dari hidrolisa minyak atau lemak, ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin tinggi bilangan asam, maka makin rendah kualitasnya.

Asam lemak bebas merupakan hasil degradasi/ deesterifikasi/ hidrolisislemak yang dapat menunjukkan kualitas bahan makanan mulai menurun. Reaksihidrolisis lemak adalah sebagai berikut:

Trigiserida + 3 H2O --> asam lemak + gliserol

Banyaknya asam lemak bebas yang terdapat dalam suatu lemak atauminyak dinyatakan dengan bilangan asam. Bilangan asam merupakan jumlahmiligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yangterdapat dalam satu gram lemak atau minyak. Penetapan bilangan asam dilakukan dengan cara melarutkan ekstrak lemak dalam alkohol netral panas danditambahkan beberapa tetes fenolftalein sebagai indikator. Alkohol netral panasdigunakan sebagai pelarut netral supaya tidak mempengaruhi pH karena titrasi inimerupakan titrasi asam basa. Alkohol dipanaskan untuk meningkatkan kelarutanasam lemak. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam dengan basa yang menghasilkan garam. Reaksinya adalah sebagai berikut:


C17H29COOH + KOH --> C17H29COOK + H2O

PENETAPAN KADAR LEMAK METODE SOXHLET

Diposting oleh Unknown di 04.41 0 komentar

Lemak merupakan bagian dari lipid yang mengandung asam lemak jenuh bersifat padat. Lemak merupakan senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena, hexana dan hidrokarbon lainnya. Lemak dapat larut dalam pelarut tersebut karena lemak  mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut.

Dalam mengetahui kadar lemak yang terdapat di bahan pangan dapat dilakukan dengan mengekstraksi lemak. Namun mengekstrak lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air (pelarut anhydrous) agar bahan-bahan yang larut dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktivan pelarut tersebut menjadi berkurang.

Sifat-sifat dari lemak dapat diidentifikasi dengan beberapa metode Terdapat dua metode untuk mengekstraksi lemak yaitu metode ekstraksi kering dan metode ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak mempunyai prinsip bahwa mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak tersebut dari sampel yang telah kering benar dengan menggunakan pelarut anhydrous. Keuntungan dari dari metode kering ini, praktikum menjadi amat sederhana, bersifat universal dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah terbakar dan adanya zat lain yang ikut terekstrak sebagai lemak. Pada praktikum penetapan kadar lemak ini digunakan metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet.

Tujuan
Praktikum penetapan lemak kasar dan komponen lipid dilakukan dengan tujuan agar praktikan dapat mengetahui kadar lemak yang terkandung dalam suatu bahan pangan. Metode yang digunakan tergolong dalam metode ekstraksi kering yaitu metode Soxhlet
                                                                                    
METODE SOXHLET
Metode Soxhlet termasuk jenis ekstraksi menggunakan pelarut semikontinu. Ekstraksi dengan pelarut semikontinu memenuhi ruang ekstraksi selama 5 sampai dengan 10 menit dan secara menyeluruh memenuhi sampel kemudian kembali ke tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur melalui berat yang hilang dari contoh atau berat lemak yang dipindahkan. Metode ini menggunakan efek perendaman contoh dan tidak menyebabkan penyaluran. Walaupun begiru, metode ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode kontinu.

Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling, bypass sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in,dan cooling water out .

Langkah-langkah dalam metode Soxhlet adalah : 
Menimbang tabung pendidihan ; menuangkan eter anhydrous dalam tabung pendidihan, susun tabung pendidihan, tabung Soxhlet, dan kondensator ; ekstraksi dalam Soxhlet ; mengeringkan tabung pendidihan yang berisi lemak yang terekstraksi pada oven 1000C selama 30 menit ; didinginkan dalam desikator lalu ditimbang.

Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5 sampai dengan 10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam “Thimble” (selongsong tempat sampel) , di atas sampel ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah petroleum spiritus dengan titik didih 60 sampai dengan 80°C. Selanjutnya, labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan petroleum spiritus 60 – 80°C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik. Thimbleyang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak kemudian mulai dipanaskan.

Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju  labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan.

Faktor yang Memengaruhi Kadar Lemak
Faktor-faktor yang memengaruhi laju ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet memberikan hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini digunakan pemanasan yang diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar pelarut, bahan terekstrak yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi. Fenolat total yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada ekstrak yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk ketiga macam bakteri uji Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya hambat yang berarti pada semua bakteri uji Gram-negatif.

Crackers
Crackers adalah jenis biskuit yang terbuat dari adonan keras melalui proses fermentasi atau pemeraman, berbentuk pipih yang mengarah kepada rasa asin dan renyah, serta bila dipatahkan penampang potongannya berlapis-lapis. Crackers tanpa pemanis merupakan tipe yang paling populer yang dapat dikonsumsi sebagai pengganti roti dan penggunaanya lebih luas sebagai makanan diet. Ciri-ciri crackersyang baik adalah tekstur yang renyah, tidak keras apabila digigit, tidak hancur, dan mudah mencair apabila dikunyah. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatancrackers dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bahan-bahan yang berfungsi sebagai pengikat dan bahan pelembut tekstur.  Bahan pengikat atau pembentuk adonan yang kuat adalah tepung terigu, air, dan garam, sedangkan bahan-bahan yang berfungsi sebagai pelembut tekstur adalah gula, mentega, dan leavening agent (baking powder)sebagai bahan pengembang.
                           
Pelarut Heksana

n-Heksana adalah bahan kimia yang terbuat dari minyak mentah. Normal heksana tidak berwarna dan memiliki bau yang tajam. Bahan ini mudah terbakar dan uapnya bersifat eksplosif. Kebanyakan heksana digunakan pada industri sebagai pelarut. Pelarut yang menggunakan n-heksana bisanya digunakan untuk mengestrak minyak sayuran dari hasil pertanian, seperti kedelai. Pelarut ini juga digunakan sebagai agen pembersih pada percetakan, tekstil, furniture, dan industri pembuatan sepatu. Heksana larut hanya pada air. Kebanyakan  n-heksana yang tumpah di air akan mengapung ke permukaan dimana heksana akan menguap ke udara.

Minggu, 06 Oktober 2013

penetapan kadar Cr dalam K2Cr2O7

Diposting oleh Unknown di 15.27 0 komentar
KROMIUM ( Cr )
Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cr dan nomor atom 24. Kromium trivalen (Cr(III), atau Cr3+) diperlukan dalam jumlah kecil dalam metabolisme gula pada manusia. Kekurangan kromium trivalen dapat menyebabkan penyakit yang disebut penyakit kekurangan kromium (chromium deficiency). Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat. Dengan sifat ini, kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen bangunan maupun pada komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor. Perpaduan Kromium dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan karat.
Sifat – sifat kromium :
• Merupakan logam pasif berwarna putih perak dan lembek jika dalam keadaan murninya.
• Tahan terhadap korosi karena reaksi dengan udara menghasilkan Cr2O3 yang bersifat nonpori
• Warna oksidanya berbeda – beda tergantung jenis dan jumlah atom yang diikatnya.
• Titik leleh : 1900 C
• Titik didih : 2690 C 
• Mempunyai tingkat oksidasi +3, +2, +6
• CrO2 bersifat konduktor dan magnetic
• Tahan terhadap panas
Kegunaan kromium
1. Pelapis baja atau logam
2. Sebagai fungsi dekoratif
3. Merupakan bahan paduan yang menjadikan baja bersifat keras dan kuat
4. Cr(OH)SO4 bereaksi dengan kolagen menjadikan kulit bersifat liat, lentur dan tahan terhadap kerusakan biologis
5. Bahan paduan steinless steel ( yang biasa berisi kromium dan sedikit nikel ) digunakan pada industry alat – alat dapur
6. Logam paduan tanpa besi ( Ni dan Cr ), digunakan untuk berbagai peralatan tahan panas karena bersifat bukan konduktor
7. CrO3 yang berwarna coklat gelap, bersifat konduktor listrik yang tinggi dan bersifat magnetic, digunakan pada pita rekaman
8. CrO3,PbCr4, digunakan sebagai pewarna cat dan gelas
9. Na2CrO7 sebagai oksidan dalam industry kimia
Sumber dan Ekstraksi
Sumber kromium diantaranya dari biji kromit ( FeCrO4 ), krokoit ( PbCrO4 ), dan oker kroma ( Cr2O3 )
Berdasarkan penggunaannya, ekstraksi kromium dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Sebagai paduan ferokrom
2. Sebagai logam murni kromium
Langkah – langkah ekstraksinya :
1.Sebagai ferokrom
• Dibuat dari reduksi kromit dengan batu bara coke dalam tanur listrik. Ferokrom dengan kandungan C rendah dapat diperoleh dari reduksi kromit dengan menggunakan ferosilikon, sebagai ganti batu bara coke. Hasil paduan Fe-Cr dapat digunakan langsung sebagai bahan paduan baja kromium steinless.
Reaksi :
FeCr2O4 + C 2 Cr3+ + Fe3+ + 4 CO
2.Sebagai logamnya
• Bijih kromit dalam lelehan alkali karbonat dioksida dalam udara untuk memperoleh Na2CrO4
FeCrO4 + Na2CO3 + O2 2Na2CrO4 + 2 CO2 + Fe
• Na2CrO4 yang terbentuk kemudian diluluhkan dan dilarutkan dalam air yang dilanjutkan dengan pengendapan sebagai Na2CrO4
2Na2CrO4 + H2O Na2Cr2O4 + 2 NaOH 
• Na2Cr2O4 ( dikromat ) kemudian direduksi dengan menggunakan karbon sehimgga terbentuk oksidanya, Cr2O3
Na2Cr2O4 + 2C Cr2O3 + Na2CO3 + CO
• Cr2O3 dengan Al melalui proses aluminatenik atau silikon dihasilkan logam kromium murni.
Cr2O3 + 2Al 2Cr + Al2O3
2Cr2O3 + 3Si 4Cr + 3Si2O2
Senyawa Oksida
Oksida Kromium
Cr2O3 dapat diperoleh dari komposisi thermal NH3- kromat
( NH4 )2Cr2O7 Cr2O3 + N3 + 4H2O

Oksida kromium paling stabil mengadsorbsi cerendum, digunakan sebagai pegmen hijau dan bersifat semi konduktor dan anti feromagnetik dibawah 350C
1. Kromium ( IV ) oksida CrO2
CrO3 + H2 CrO2 + H2O

2. Kromium ( VI ) oksida CrO3
K2Cr2O2 + H2SO4 CrO3 + K2SO4 + H2O
 Kromium ( VI ) oksida mengadsorbsi struktur rantai unit tetrahedral CrO4 yang bersekutu pada salah satu titik sudutnya. Kromium trioksida sangat bersifat asam dan dengan basa menghasilkan CrO4 2-
 Penurunan PH dengan menambahkan asam kedalam larutan kromat, pada mulanya mengakibatkan kondensasi unit – unit tetrahedron CrO4 menjadi ion dikromat Cr2O73- dan kondensasi lanjut menghasilkan endapan CrO3, persamaan reaksi kromat ( kuning ) dengan dikromat ( merah orange ), yaitu :
2 CrO4 2- + 2 H2O- Cr2O73- + 3 H2O
Garam kromium
 Ion yang paling sederhana dalam bentuk krom dalam larutan adalah ion heksaaquokrom(III) - [Cr(H2O)6]3+.Keasaman ion heksaaquo. Biasanya dengan ion 3+, ion heksaaquokrom(III) agak asam dengan pH pada larutan tertentu antara 2 -3. Ion bereaksi dengan molekul air dalam larutan. Ion hidrogen terlepas dari salah satu ligan molekul air: Ion kompleks berperan sebagai asam dengan memberikan ion hidrogen kepada molekul air dalam larutan. Air, sudah tentu, berperan sebagai basa yang menerima ion hidrogen. Karena keberadaan air ada berasal dari dua sumber yang berbeda cukup membingungkan (dari ligan dan larutan), maka lebih mudah menyederhanakannya seperti berikut ini:
 Akan tetapi, jika kamu menuliskannya seperti ini, harus diingat bahwa ion hidrogen tidak terletak pada ion kompleks. Ion hidrogen tertarik oleh molekul air dalam larutan. Sewaktu-waktu kamu dapat menulis "H+(aq)" yang dimaksud sebenarnya adalah ion hidroksonium, H3O+

Reaksi pertukaran ligan yang melibatkan ion klorida dan ion sulfat
 Warna ion heksaaquokrom(III) sulit untuk dilukiskan karena berwarna ungu-biru-abu. Akan tetapi, ketika diproduksi melalui reaksi dalam tabung reaksi, ion ini berwarna hijau. Kita selalu menggambarkan ion hijau sebagai Cr3+(aq) - secara tidak langsung ion heksaaquokrom(III). Hal ini sebenarnya adalah suatu penyederhanaan. Apa yang terjadi jika salah satu atau lebih ligan molekul air dapat digantikan oleh ion negatif yang dalam larutan ? khususnya sulfat atau klorida.
Penggantian air oleh ion sulfat
 Dapat melakukan hal ini secara sederhana dengan memanaskan larutan krom(III) sulfat. Satu molekul air digantikan oleh ion sulfat. Perhatikan perubahan muatan pada ion. Dua muatan positif dibatalkan oleh keberadaan dua muatan negatif pada ion sulfat.
Penggantian air oleh ion klorida
 Pada saat adanya ion klorida (sebagai contoh dengan krom(III) klorida), warna yang biasanya dapat dilihat adalah hijau. Hal ini terjadi ketika dua molekul air digantikan oleh ion klorida untuk menghasilkan ion tetraaquodiklorokrom(III) - [Cr(H2O)4Cl2]+. Sekali lagi, perhatikan bahwa penggantian molekul air oleh ion klorida mengubah muatan pada ion.
Reaksi ion heksaaquokrom(III) dengan ion hidroksida
 Ion hidroksida (dari, katakanlah, larutan natrium hidroksida, NaOH) dapat menghilangkan ion hidrogen dari ligan air kemudian didempetkan pada ion krom. Sekali waktu ion hidrogen dapat dihilangkan dari tiga molekul air, kamu akan memperoleh kompleks yang tidak bermuatan - komplek netral. Kompleks netral ini tidak larut dalam air dan endapan terbentuk. Tetapi proses tidak berhenti sampai disini. Ion hidrogen yang lebih benyak akan dihilangkan untuk menghasilkan ion seperti [Cr(H2O)2(OH)4]- dan [Cr(OH)6]3-. Sebagai contoh: Endapan larut kembali karena ion tersebut larut dalam air.
Reaksi ion heksaaquokrom(III) dengan larutan ammonia
 Amonia dapat berperan sebagai basa maupun sebagai ligan. Dengan jumlah amonia yang sedikit, ion hidrogen tertarik oleh ion heksaaquo seperti pada kasus ion hidroksida untuk menghasilkan kompleks netral yang sama. Endapan tersebut larut secara luas jika kamu menambahkan amonia berlebih (terutama jika amonianya pekat). Amonia menggantikan air sebagai ligan untuk menghasilkan ion heksaaminkrom(III)
Reaksi ion heksaaquokrom(III) dengan ion karbonat
 Jika kamu menambahkan larutan natrium karbonat pada larutan ion heksaaquokrom(III), kamu akan memperoleh endapan yang sama jika kamu menambahkan larutan natrium hidroksida atau larutan amonia. Pada saat seperti ini, ion karbonat ion yang menghilangkan ion hidrogen dari ion heksaaquo dan menghasilkan kompleks netral. Berdasarkan pada proporsi ion karbonat dan ion heksaaqua, kamu akan memperoleh salah satu diantara ion hidrogenkarbonat atau gas karbon dioksida dari reaksi antara ion hidrogen dan ion karbonat. Persamaan hasil bagi menunjukkan lebih memungkinkan terjadinya pembentukan karbon dioksida. Selain karbon dioksida, tidak terjadi sesuatu yang baru pada reaksi ini.
Oksidasi krom(III) menjadi krom(VI)
 Sebagai akibat dari penambahan larutan natrium hidroksida pada ion heksaaquokrom(III) menghasilkan larutan ion heksahidroksokromat(III) yang berwarna hijau. Larutan ion heksahidroksokromat(III) yang berwarna hijau kemudian di oksidasi dengan memanaskan larutan tersebut dengan larutan hidrogen peroksida. Setelah itu kamu akan memperoleh larutan berwarna kuning terang yang mengandung ion kromat(VI).
Beberapa sifat kimia krom(VI)
Kesetimbangan kromat(VI)-dikromat(VI)
 Kamu mungkin lebih terbiasa dengan ion dikromat(VI) yang berwarna jingga, Cr2O72-, dibandingkan dengan ion kromat(VI) yang berwarna kuning, CrO42-. Perubahan antara keduanya adalah sesuatu hal yang mudah. Jika kamu menambahkan asam sulfat encer pada larutan yang berwarna kuning maka larutan tersebut akan berubah menjadi berwarna jingga. Jika kamu menambahkan natrium hidroksida ke dalam larutan jingga maka larutan tersebut berubah menjadi kuning. Jika kamu menambahkan ion hidrogen berlebih, kesetimbangan bergeser ke kanan. Hal ini sesuai dengan prinsip Le Chatelier. Jika kamu menambahkan ion hidroksida, maka ion hidroksida akan bereaksi dengan ion hidrogen. Kesetimbangan cenderung ke arah kiri untuk menggantikannya.

Pembuatan kristal dikromat(VI)
 Kristal kalium dikromat dapat dibuat dengan mengkombinasikan reaksi yang akan kita lihat pada halaman ini. Berawal dari sumber ion kromium(III) seperti larutan kromium klorida. Pada penambahakan larutan kalium hidroksida untuk menghasilkan endapan hijau-biru dan kemudian larutan hijau tua yang mengandung ion [Cr(OH)6]3- Hal ini akan dijelaskan dengan lebih mendalam pada halaman berikutnya. Harap diperhatikan harus menggunakan kalium hidroksida. Jika menggunakan natrium hidroksida, maka akan berakhir dengan pembentukan natrium dikromat(VI). Sekarang oksidasi larutan ini dengan cara memanaskannya dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida. Larutan berubah menjadi kuning menunjukkan pembentukan kalium kromat(VI). Semua yang berada pada bagian sebelah kiri mengubah larutan kalium kromat(VI berwarna kuning menjadi larutan kalium dikromat(VI) yang berwarna jingga hal ini terjadi dengan penambahan asam. Sayangnya terdapat sebuah masalah. Kalium dikromat akan bereaksi dengan kelebihan hidrogen peroksida kemudian selanjutnya memberikan prakarsa pada pembentukan larutan biru tua yang tidak stabil dan sejak itu terbentuk ion kromium(III) lagi! Untuk memecahkan masalah ini, kamu terlebih dahulu harus menghilangkan kelebihan hidrogen peroksida. 
 Hal ini dapat dilakukan dengan mendidihkan larutan. Hidrogen peroksida terdekomposisi pada pemanasan dengan menghasilkan air dan oksigen. Larutan dididihkan sampai tidak terbentuk lagi gelembung gas oksigen yang dihasilkan. Larutan dipanaskan lebih lanjut untuk memekatkannya, dan kemudian asam etanoat pekat ditambahkan untuk mengasamkannya. Kristal kalium dikromat yang berwarna jingga terbentuk melalui proses pendinginan.
Reduksi ion dikromat(VI) dengan seng dan asam
 Ion dikromat(VI) (sebagai contoh, pada larutan kalium dikromat(VI)) dapat di reduksi menjadi ion krom(III) dan kemudian menjadi ion krom(II) dengan menggunakan seng dan salah satu diantara asam sulfat encer atau asam klorida. Hidrogen dihasilkan dari reaksi antara seng dengan asam. Hidrogen harus dibiarkan keluar, tetapi kamu perlu untuk tetap menjaga agar udara tidak terlibat dalam reaksi. Oksigen di udara me-re-oksidasi krom(II) menjadi krom(III) dengan cepat. Suatu hal yang mudah untuk meletakkan sedikit kapas mentah pada bagian atas labu (atau tabung reaksi) selama kamu mengunakannya. Hal ini dilakukan untuk menyediakan jalan keluar bagi hidrogen, tetapi menghentikan udara yang mengalir berlawanan dengan aliran hidrogen. Alasan untuk membubuhkan tanda kutip pada ion krom(III) adalah untuk penyederhanaan. Khuluk yang pasti yang dimiliki oleh ion kompleks akan tergantung pada asam yang kamu gunakan pada proses reduksi. Hal ini sudah didiskusikan pada bagian awal halaman ini.
Penggunaan kalium dikromat(VI) sebagai agen pengoksidasi pada kimia organik
 Larutan Kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer biasa digunakan sebagai agen pengoksidasi pada kimia organik. Hal ini beralasan karena larutan kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer merupakan agen pengoksidasi yang kuat disamping memiliki kekuatan yang mampu menjadikan senyawa organik menjadi terpotong-potong! (larutan kalium manganat(VII) juga memberikan kecenderungan yang sama).
Larutan Kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer digunakan untuk:
Mengoksidasi alkohol sekunder menjadi keton; 
Mengoksidasi alkohol primer menjadi aldehid; 
Mengoksidasi alkohol primer menjadi asam karboksilat; 
Sebagai contoh, dengan etanol (alkohol promer), kamu dapat memperoleh salah satu antara etanal (aldehid) atau asam etanoat (asam karboksilat) tergantung pada kondisinya. 
Jika kelebihan alkohol, dan kamu mendetilasi aldehid yang terbentuk, kamu akan memperoleh etanal sebagai produk utama. 
Jika kelebihan agen pengoksidasi, dan kamu tidak membiarkan bagi produk untuk keluar, sebagai contoh, dengan pemanasan campuran dibawah refluk (pemanasan labu dengan menempatkan kondensor secara vertikal pada leher labu) - kamu akan memperoleh asam etanoat.
 Dalam kimia organik, persamaan tersebut sering kali disederhanakan untuk proses pemekatan yang terjadi pada molekul organik. Sebagai contoh, dua yang terakhir dapat ditulis: Oksigen ditulis dengan kurung kuadrat hanya memberikan arti oksigen berasal dari agen pengoksidasi
Penggunaan reaksi yang sama untuk membuat kristal krom alum
Dapat menemukan krom alum dalam berbagai nama yang berbeda
Krom alum 
Kalium krom(III) sulfat 
Krom(III) kalium sulfat 
Krom(III) kalium sulfat-12-air 
Krom(III) kalium sulfat dodekahidratchrome alum
dan beragai variasi yang lain yang juga akan ditemukan berbagai variasi rumus kimia krom alum. Sebagai contoh:
CrK(SO4)2,12H2O
Cr2(SO4)3,K2SO4,24H2O
K2SO4,Cr2(SO4)3,24H2O
 Krom alum dikenal dengan double salt (garam ganda). Jika kamu mencampurkan larutan kalium sulfat dan krom(III) sulfat yang memiliki konsentrasi molar yang sama, larutan akan dikira hanya seperti sebuah campuran. Pencampuran ini memberikan reaksi ion krom(III), ion kalium, dan ion sulfat.
 Akan tetapi, jika mengkristalkannya, untuk memperoleh campuran kristal kalium sulfat dan krom(III) sulfat, larutan akan mengkristal sebagai kristal yang berwarna ungu tua. Itulah krom alum. Kristal krom alum dapat dibuat dengan mereduksi larutan kalium dikromat(VI) yang telah diasamkan dengan menggunakan etanol, dan kemudian kristalisasi larutan yang dihasilkan. Dengan asumsi dapat mengunakan kelebihan etanol, produk organik utama yang akan diperoleh adalah etanal - dan kita perhatikan persamaan di bawah ini: Persamaan ionik jelas tidak mengandung ion spektator, kalium dan sulfat.
Penggunaaan kalium dikromat(VI) sebagai agen pengoksidasi dalam titrasi
Kalium dikromat(VI) seringkali digunakan untuk menentukan konsentrasi ion besi(II) dalam larutan. Hal ini dilakukan sebagai alternatif penggunaan larutan kalium permanganat(VII).
Keuntungan dan kerugian dalam penggunaan kalium dikromat(VI).
Keuntungan: 
Kalium dikromat(VI) dapat digunakan sebagai standar primer. Hal ini berarti bahwa kalium dikromat(VI) dapat dijadikan sebagai larutan stabil yang konsentrasinya diketahui dengan tepat. Hal ini tidak terjadi pada kalium permanganat(VII). 
Kalium dikromat(VI) dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan ion klorida (selama ion klorida tidak berada pada konsentrasi yang sangat tinggi). 
Kalium manganat(VII) mengoksidasi ion klorida menjadi klorin; kalium dikromat(VI) tidak benar-benar cukup kuat sebagai agen pengoksidasi. Hal ini berarti bahwa kamu tidak akan mendapatkan reaksi yang tidak diinginkan dengan larutan kalium dikromat(VI). 
Kerugian: 
Kerugian yang paling utama adalah pada perubahan warna. Titrasi kalium manganat(VII) menunjukkan dirinya sendiri. Ketika menyertakan larutan kalium manganat(VII) pada reaksi, larutan menjadi tidak berwarna.
Jika menambahkannya terlalu banyak, larutan menjadi merah muda dan telah melewati titik akhir. Sayangnya larutan kalium dikromat(VI) berubah menjadi hijau pada saat kamu memasukkannya ke dalam reaksi, dan disana tidak ada jalan yang memungkinkan untuk mendeteksi perubahan warna ketika menuangkan larutan jingga berlebih pada larutan berwarna hijau yang kuat.
Dengan larutan kalium dikromat(VI) dapat menggunakan indikator terpisah, dikenal dengan redox indicator. Warna berubah melalui kehadiran agen pengoksidasi.
Berikut beberapa contoh indikator - seperti difenil sulfonat. Indikator memberikan warna ungu-biru dengan adanya larutan kalium dikromat(VI) yang berlebih. Akan tetapi, warna menjadi lebih sulit diinterpretasikan dengan munculnya warna hijau yang kuat. Titik akhir titrasi kalium dikromat(VI) tidak mudah untuk dilihat seperti titik akhir kalium manganat(VII). 
Tes untuk ion kromat(VI) dalam larutan
Secara khusus, kamu dapat perhatikan pada larutan yang mengandung natrium, kalium atau amonium kromat(VI). Sebagian besar kromat sangat larut; beberapa diantaranya dapat kita golongkan tidak larut. Warna larutan kuning terang menunjukkan bahwa larutan tersebut bermanfaat untuk tes ion kromat.

Tes dengan penambahan asam 
 Jika menambahkan beberapa larutan asam sulfat encer pada larutan yang mengandung ion kromat(VI), perubahan warna berubah menjadi jingga ion dikromat(VI). Kita tidak dapat dapat menggunakan tes ini sebagai tes untuk ion kromat(VI), walau bagaimanapun. Ini mungkin terjadi bahwa kamu memiliki larutan yang mengandung indikator asam-basa yang memiliki perubahan warna yang sama.
Tes dengan penambahan larutan klorida (atau nitrat)
 Ion kromat(VI) dapat memberikan endapan kuning barium kromat(VI).

Tes dengan penambahan larutan klorida (atau nitrat)
 Ion kromat(VI) dapat memberikan endapan kuning barium kromat(VI).

Tes dengan penambahan larutan klorida (atau nitrat)
 Ion kromat(VI) dapat memberikan endapan kuning barium kromat(VI).

Logam krom dan keberadaannya
 Logam krom merupakan logam golongan transisi, diketemukan di alam sebagai bijih terutama kromit (Fe(CrO2)2). Krom merupakan elemen berbahaya di permukaan bumi dan dijumpai dalam kondisi oksida antara Cr(II) sampai Cr(VI). Krom bervalensi tiga umumnya merupakan bentuk yang umum dijumpai di alam, dan dalam material biologis krom selalu berbentuk valensi tiga, karena krom valensi enam merupakan salah satu material organik pengoksidasi yang tinggi (Suhendrayatna 2001). 
 Krom valensi tiga memiliki sifat racun yang rendah dibandingkan dengan valensi enam. Pada bahan makanan dan tumbuhan mobilitas krom relatif rendah dan diperkirakan konsumsi harian komponen ini pada manusia dibawah 100 ˇg, kebanyakan berasal dari makanan, sedangkan dari air dan udara dalam tingkat yang rendah. Dalam perairan, krom berada pada bilangan oksidasi +2, +3, dan +6, dan hanya +6 merupakan tingkat oksidasi yang paling dominan. Ion kromos (Cr2+) merupakan krom tingkat oksidasi +2, bersifat tidak stabil, dan jumlahnya relative Log C Log x/m 12 sedikit. Cr2+ dengan cepat teroksidasi ke tingkat oksidasi +3 yang lebih stabil dalam lingkungan aerobik. Di samping itu, sebagai Cr(OH)2, Cr2+ akan mengendap dalam air pada pH mendekati 6. Dengan demikian krom tingkat oksidasi +3 dan +6 lebih banyak berperan dalam lingkungan perairan (Bert,1982). Senyawa Cr(III) dan Cr(VI) sering dipakai untuk bahan pelapis logam lain agar lebih tahan korosi dan kelihatan lebih baik. Selain itu senyawa Cr(III) dan Cr(VI) juga dipakai sebagai bahan pembuatan cat, pewarna tekstil dan lain-lain. Dalam zat warna tekstil jenis Grey Lanaset G mengandung krom (III) sebesar 2,5 % sebagai senyawa kompleks organologam (Blanques et al. 2004). Krom (VI) lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dengan Cr(III). Namun, setelah di dalam tubuh Cr(VI) segera mengalami reduksi menjadi Cr(III) (ATSDR, 2000). Keterdapatan Cr(III) dalam tubuh dapat menyebabkan kanker paru-paru.
 Senyawa krom dalam bentuk Cr2(SO4)3 banyak digunakan dalam aplikas komersial termasuk penyamakan kulit, pengawetan kayu, dan produksi pigmen. Hampir 90% industri penyamakan kulit menggunakan krom trivalen dalam proses penyamakan karena efektif, murah, dan tersedia di pasaran. Menurut Tutem et al. (2001), selama proses produksi, krom dalam jumlah besar dibuang ke atmosfir, tanah, dan air. Oleh karena itu, limbah penyamakan kulit diolah untuk memperoleh krom, sehingga krom dapat digunakan kembali pada proses penyamakan kulit.
Teknologi proses Ekstraksi membran Cair Emulsi untuk pengolahan krom dari limbah Elektroplating
 Proses pelapisan logam dasar oleh logam krom secara listrik (electroplating) menghasilkan limbah cair yang mengandung krom(VI) dalam konsentrasi yang relatif tinggi, rata-rata antara 180 hingga 500 ppm. Mengingat krom(VI) termasuk bahan kimia yang berbahaya, keberadaannya di lingkungan perlu dicermati. Proses pengolahan konvensional yang telah diterapkan ialah cara kimia, dengan menambahkan garam besi(II) ke dalam limbah cair itu. Besi(II) teroksidasi menjadi besi(III) dan krom(VI) tereduksi menjadi krom(III). Selanjutnya, besi(III) dan krom(III) diendapkan sebagai hidroksidanya melalui penambahan basa. Cara ini dinilai tidak ekonomis mengingat garam besi(II) berharga mahal dan masih memerlukan tindak lanjut terhadap limbah padat hasil pemisahan tersebut.
 Pemisahan krom(IV) secara membran cair emulsi akan dicobakan untuk mengatasi masalah tersebut. Membran cair emulsi dibuat dengan mendispersikan fase internal ke dalam fase membran. Pada kasus penanganan limbah cair proses electroplating, emulsi yang digunakan ialah jenis air dalam minyak atau lainnya. Fase membran mengandung surfaktan dan senyawa pengemban (carrier). Selanjutnya emulsi dikontakkan dengan fase umpan. Penelitian ini mempelajari berbagai kondisi yang mempengaruhi ekstraksi. Pembuatan emulsi dioptimasi dengan mempelajari parameter komposisi membran, nisbah volume fase organik terhadap fase internal, kecepatan pengadukan, dan lama pengadukan. Parameter ekstraksi yang dipelajari ialah nisbah volume fase umpan terhadap fase emulsi, kecepatan pengadukan, waktu kontak, dan komposisi fase internal. 
 Proses pemisahan ditempuh melalui 2 tahap, yakni tahap pembuatan emulsi dan tahap ekstraksi. Emulsi dibuat dengan mencampurkan fase organik dengan fase internal. Fase organik terdiri atas larutan surfaktan sorbitan monoo-leat (SPAN-80), senyawa pengemban yang dipelajari: trioktil amina (TOA), tridesil amina (TDA), di-2-etil heksil fosfat (D2EHPA), tributil fosfat (TBP), dan trioktil fosfin oksida (TOPO) dalam pelarut kerosen. Fase internal yang dipelajari ialah larutan NAOH, NA2CO3, NaCl, dan NaHCO3, dengan konsentrasi tertentu. Parameter yang dipelajari ialah komposisi fase organik, komposisi fase internal, kecepatan pengadukan, lama pengadukan, dan nisbah volume fase organik terhadap fase internal. Pengadukan kuat dilakukan dengan menggunakan Ultra Turrax T-50 dari Janbe and Kunkel Ikan Laboratecnek. Selanjutnya emulsi dikontakkan dengan fase umpan yang telah mengandung krom(VI). Pada tahap pertama, fase umpan merupakan larutan simulasi sedangkan pada tahap kedua, larutan umpan berupa limbah cair yang diperoleh dari industri electroplating di kawasan Bandung. Parameter ekstraksi yang dipelajari ialah nisbah volume fase umpan terhadap fase emulsi, waktu kontak, kecepatan pengadukan, dan komposisi fase umpan. Konsentrasi krom dalam limbah selama proses ekstraksi ditentukan dengan metode spektrofotometri serapan atom.
DAFTAR PUSTAKA
1. 12 pencemaran_kromium_pada_tenaga_k.htm
2. 2009_02_01_archive.html
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Kromium"
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Kromium(II)_asetat"
 

>>> Nhunhu Zone Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting